badge

Monday, 29 April 2013

Kopi, Pagi dan Kamu


Selamat pagi
Untuk kamu yang masih aku rindukan saat ini
Kau tahu ?
Pagi ini tidak seperti pagi biasanya
Aku merindukanmu untuk meminum kopi ini bersamaku
Ini memang hal kecil
Tapi menikmatinya bersamamu, seperti keajaiban
Kau duduk dihadapanku
Menyeruput coffee latte buatanku, favoritmu
Menceritakan masa kecilmu dan impianmu di masa depan
Tidakkah kau sadar ?
Aku menghafal setiap detail yang kau ceritakan
Setelahnya aku tulis semuanya
Tidakkah aku seperti orang bodoh ?
Aku menulis sesuatu yang tidak akan pernah kau baca
Karena aku bukan seorang penyair
Aku ini hanya barista
Yang cintanya tergambar dengan kafein dan gula

Selamat pagi
Untuk kamu yang kini ada dihadapanku walau jaraknya tidak sedekat dulu
Kau tahu ?
Aku selalu senang melihatmu
Kau semakin terlihat bahagia setiap hari
Sekalipun minuman favoritmu sepertinya sudah berubah
Aku akan senang bila membuatkannya seberapa pun kau ingin





Saturday, 27 April 2013

Tentang Dia dan Waktu

Dia berjalan dan terus berjalan
Hingga pada satu titik dia menoleh
Dan mendapati dirinya telah menua
Waktu telah menggerus umurnya secara perlahan
Rambutnya memutih
Kulitnya semakin keriput

Dia berjalan dan terus berjalan
Hingga pada satu titik dia menoleh
Dan mendapati dirinya menyesal
Masa mudanya telah pergi
Dan hidupnya tidak akan lama lagi

Doaku PadaNya

Aku percaya Kau akan selalu mendengar dan aku juga tidak akan pernah bosan untuk meminta.
Kau yang selalu memberi dan aku juga akan selalu berterimakasih.
Bahkan aku meminta yang tersulit pun aku percaya Kau pasti akan memberikannya.
Aku yang menyebalkan tapi Kau selalu ada.
Aku ingin ini, Kau memberikan itu. Kadang kita berlawanan tp kenapa hingga saat ini Kau masih tetap ku butuhkan ?
Kadang aku bingung, bagaimana cara mengembalikan kelebihan dari semua pemberianMu. Tidakkah yang aku terima berlebihan ? Tapi aku harus tetap berterimakasih.

Monday, 22 April 2013

Waktu

Tidakkah waktu bisa berjalan mundur ?
Mengapa tidak ?
Dia sangat angkuh
Berjalan ke depan tanpa mempedulikan siapapun
Menggerus semua hal yang ada di hadapannya
Tidakkah waktu itu jahat ?
Sebenarnya dia ingin, tapi Tuhan tidak mengizinkan

Sunday, 21 April 2013

Malam di Malioboro

Di tengah keramaian malam Malioboro
Dia berjalan
Namanya Gisang
Pengamen jalanan yang bertubuh kecil
Dibalut baju yang lusuh dan urakan
Dia membawa gitar putih kesayangannya

Dia terus berjalan
Mata indahnya memancarkan sinar sarat akan kekaguman
Pada riuh malam di Malioboro
Bibirnya menyunggingkan senyum pada setiap orang yang melihatnya

Dia terus berjalan
Hingga akhirnya dia lelah dan berhenti di persimpangan
Sejenak dia terdiam
Memandang kagum mobil-mobil mewah yang berlalu lalang di hadapannya
Dia mengambil gitarnya
Memetik senar demi senarnya
Dia bernyanyi dan terus bernyanyi
Hingga malam tergantikan oleh pagi
 PAPA SIKA

“Nyariin apa sih kak ?”
“Buku Mah, yang aku taroh di atas bangku coklat.”
“Oh, buku novel itu ? Tuh Papah buang.”
Sika menoleh ke arah tong sampah didepan rumahnya dan benar saja novel kesayangannya tergeletak tanpa dosa disana.
“Yah, kok dibuang ?”
“Ngapain ? Mau dibaca ? Baca tuh buku pelajaran ! Baca buku begituan ! Kamu mau jadi apa ?! PENDONGENG ?!!” bentak Papa Sika.
Sika sudah sering mengalami hal ini berkali-kali. Setiap beli novel pasti keesokan harinya bukunya sudah ada di tong sampah, kadang bisa sampai di tukang loak. Sika memang tumbuh di keluarga yang realistis, segala sesuatunya melihat kenyataan yang ada, bukan pengkhayal. Begitu pula Papa Sika. Dia adalah orang terealistis serta terplegmatis sejagad raya dan emang gak pernah suka liat anaknya baca buku atau nonton segala hal yang berbau fiksi. Mau itu majalah, novel, cerpen, bahkan film yang dibuat oleh sutradara sekelas Hanung Bramantyo sekalipun. Katanya, mereka cuma akan bikin orang bego, karena dipenuhi sama khayalan-khayalan gak jelas, dongeng-dongeng yang kadang gak sesuai sama kenyataan yang ada. “Ya itu kan cuma di sinetron doang, aslinya mana ada orang kaya yang mau nikah sama tukang becak ? Mau secantik atau seganteng apa kek, mereka juga cari yang sederajat, yang bisa nafkahin keluarganya nanti. Kalo sama tukang becak ya kasian orang kayanya lah dipelorotin mulu ntar. Kesenengan juga si tukang becaknya.” Komentar Papa Sika suatu hari setelah nonton FTV.
Sika hanya mendengus dan berkomentar “Terserah Papa” dalam hatinya.
Sebenernya Sika sangat memaklumi watak Papanya yang sangat amat menghargai realita kehidupan. Tapi, disini justru Sika ingin membuat dunia baru, diluar realita kehidupan itu sendiri. Dimana dia bisa membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang contohnya si tukang becak yang dikomentarin Papa bisa nikah sama anak orang kaya karena keduanya jatuh cinta dengan tulus tanpa syarat apapun atau membuat dunia fantasi yang mana dunia ini aman dan gak pernah ada orang jahat didalamnya, kalaupun ada langsung dihukum tanpa ampun. Ya, Sika memang sangat bertolak belakang dengan ayahnya. Antara cerita dan cita serta fantasi dan realita.

“Sika ! Sika !”
“Iya ?”
“Kamu ngapain ? Bantuin Papa nyuci motor ! Jangan macem-macem ya Sika, belajar aja yang bener ! Gak usah lah baca-baca novel apalah itu, gak bener itu !! Sika ? Sika ? Kemana sih ? Awas ya kalo baca novel, bukunya Papa buang !”
“Iyaaaaaaaaa.” Jawab Sika. Kan rese banget ! siapa juga yang baca, orang lagi buat novelnya. Batin Sika, lalu menutup laptopnya.

***

Pukul 00.00

“Sika ?!”
“Iya ?”
“Belum tidur ?”
“Belum Pah.”
“Ngerjain apa ?”
“Hmm, tugas.”
“Yaudah kalo udah malem tvnya matiin.”
“Iya.”
Huh, lagi-lagi Sika menghela nafas lega. Ngerjain tugas ? Mana pernah seorang Sika ngerjain tugas, kuliah aja dia tidur, yang sedang Sika lakukan sekarang adalah menulis novel. Gak mungkin kan secara terang-terangan dia bilang “Sika lagi nulis novel Pah buat lomba, doain Sika ya Pah semoga Sika menang juara 1.” Bisa-bisa keesokan harinya laptopnya yang ada di tukang loak.

Sudah dua minggu ini Sika sibuk menulis novel, bukan karena ketertarikannya untuk membuat dunia sendiri seperti idamannya tapi karena ada lomba yang diadakan oleh suatu komunitas pecinta menulis. Hadiahnya bukan main, pemenangnya bisa dikontrak selama tiga kali penerbitan novelnya oleh sebuah perusahaan penerbitan. Setelah tiga kali tentu karya penulis bukan menjadi hak dan kewajiban bagi perusahaan, namun apabila selama tiga kali tersebut karya si penulis mampu melampaui batas jumlah penjualan alias best seller, kontrak bisa diperpanjang hingga tiga kali penerbitannya dan begitu seterusnya. Jika si penulis mujur, hadiah kontrak penerbitan bisa didapat seumur hidup si penulis.

Hal ini bukan lumayan lagi buat Sika, melainkan ini akan jadi sesuatu yang berharga jika Sika bisa mendapatkannya. Memang bukan hal yang gampang untuk menulis novel, idenya saja Sika masih suka curi-curi dari FTV, film, novel, cerpen, dan lain-lainnya hingga sudah ada 4 judul novel yang Sika rombak beserta cerita dan penggambaran tokohnya. Pencarian ide ini akhirnya berbuntut pada ide Sika yang sedikit mencuri dari gen ayahnya yaitu menghargai realita kehidupan. Sika melihat karakter ayahnya adalah orang terunik yang pernah dia temui di dunia. Keras, angkuh, sok, ngeselin, nyebelin, tapi penuh kasih sayang. Bukan hanya itu, sedikit demi sedikit Sika mulai memperhatikan cara pandang ayahnya terhadap dunia. Bagaimana dia bisa sekritis itu dalam menanggapi semua persoalan hidup hingga permasalahan bangsa yang tak kunjung usai. Sika akhirnya menyerah dan memutuskan untuk menjadikan ayahnya sebagai tokoh utama. Benar-benar ayahnya. Bukan orang lain yang dideskripsikan semirip mungkin dengan ayahnya.

***

Hari demi hari Sika lalui dengan menyelesaikan novelnya secara diam-diam dari ayahnya. Sebenarnya dia bukanlah tipikal orang yang suka bersembunyi, tapi apabila dia melakukannya secara terang-terangan dia belum siap lahir dan batin. Paragraf demi paragraf Sika susun sedemikian rupa. Hampir setiap malam Sika bangun untuk melanjutkan novelnya, dia sudah meminimalisir segala jenis suara yang timbul seperti suara keyboard diketik atau mp3 atau apapun itu yang bisa membuat keluarganya bangun terutama ayahnya.
Namun, feeling seorang ayah Sika tidak bisa dianggap remeh. Suatu hari dia bertanya pada Sika.
“Kamu tiap malem ngapain sih nak ? sibuk banget.”
“Ha..emm.. iya Pah lagi banyak tugas.” Binggo ! Kebohongan Sika yang pertama.
“Sampe harus tiap hari ngerjainnya ?”
“Iya.”
“Jangan dibiasain begitu, tidur terlalu malem itu gak baik buat kesehatan. Papa yang udah tua aja udah gak mau lagi begadang, biarin aja lah itu Liverpool mau menang apa gak, emang kalo dia menang mau ngasih makan keluarga kita.”
“Hmm... Iya Pah.” Jawab Sika seadanya.
“Oiya, Papa pinjem laptopnya ya. Mau ngoreksi hasil kerjaan temen Papa, dikirim lewat email.”
Deg. Nah kan ! Ini dia. Papa-laptop-novel yang ada di laptop-Papa gak suka sama cerita fiksi apalagi novel. Damn ! Sika seperti disambar petir. Bukan hanya itu, deadline pengumpulan cerita kan hari ini dan biasanya Papa gak cuma sehari pake laptop Sika, sepuasnya dia gunakan bahkan untuk streaming pertandingan sepak bola klub kesayangannya itu, Liverpool. Di novel itu semuanya sudah Sika tulis, tinggal biodata dirinya dan alasan mengapa dia ingin menulis novel, tapi Ya Tuhan ! Ayahnya memang tidak suka dengan FTV dan semacamnya, tapi kenapa dia yang membuat hidup Sika seperti FTV pada umumnya ?
“Iya, biar Sika aja Pah yang buka emailnya.”
“Gak usah, Papa aja, kamu ngerjain tugasnya pake laptop Papa aja. Papa gak ngerti kalo pake laptop yang itu, kecanggihan.”
Damn ! Terus kapan gue tulis biodata dan sebagainya, kapan ngirim ke panitianya ?  Semoga Papa gak streaming pliss !
“Ka, kuota modem kamu masih banyak kan ? Papa mau liat liverpool.”
Kan !!