Aku pernah mendengar, jika seseorang tidur
terlalu lama maka dia semakin mendekati akhir hidupnya. Sejak itulah aku tidak
ingin berlama-lama dalam tidurku. Ku putuskan untuk melakukan apa saja agar aku
tetap terjaga. Kata mereka, mungkin itulah yang menyebabkan aku tetap sendiri.
Hahaha, bagaimana bisa kataku. Aku hanya tidak bisa tidur, belaku. Ya, itulah
yang selalu aku katakan, tapi mereka selalu mengelak dan memberikan argumen
yang macam-macam. Ah, aku sudah malas mendengarnya.
Di malam kali ini, aku memulai rutinitas
malamku. Aku menulis hingga mataku bengkak, kemudian aku menari. Menciptakan
gaya-gaya yang hanya bisa ku nikmati sendiri. Ya, hanya aku. Aku yang
menampilkannya di depan kaca, aku yang menontonnya dari sana, aku juga yang
menertawakannya. Setelahnya, aku memutar lagu. Seperti saat ini. Lagu tentang
seorang wanita, yang merasa jelek dan tidak ada yang mencintainya, sehingga dia
ingin terlihat cantik dan lebih cantik. Ah, bukankah itu aku ? Beruntunglah
letak cerminku jauh dari jangkauanku. Tapi aku menikmatinya. Ku anggukkan
kepalaku berkali-kali, mengikuti iramanya dan menyanyikan liriknya tanpa suara.
Aku sadar, suaraku juga tidak bagus. Lalu, aku menulis lagi. Tentang apapun,
agar aku tetap terjaga, setidaknya hingga pukul dua pagi nanti.
Ku rasakan handphone ku bergetar. Dari Ibu
ternyata. Aku khawatir, akhir-akhir ini Ibu selalu menghubungiku. Menanyakan
apa yang sedang ku lakukan, apakah aku sudah tidur, bagaimana sekolahku dan
lainnya. Ternyata, perhatian itu menyenangkan tapi aku belum terbiasa. Mungkin
aku harus belajar banyak lagi. Kata Ibu, tidurlah. Ya nanti, jawabku. Jangan
terlalu malam, biarkan matamu beristirahat, tidur itu tidak buruk, kau akan
menemukan apa yang tidak kau lihat saat matamu terbuka, katanya. Mungkinkah ? Gumamku.
Tidak masuk akal. Melihat sesuatu yang
tidak bisa dilihat saat mata terbuka menurutku mustahil. 20 tahun aku hidup dan
aku tidak melihat hal yang istimewa dalam mata terbuka atau terpejam. Aku
meletakkan handphoneku lagi. Ku biarkan pesan dari Ibu, dan melanjutkan
menulis. Target hari ini harus tercapai. Ide di kepalaku tidak mungkin
dibiarkan teronggok begitu saja. Hingga pada baris terakhir, aku tidak tahu apa
yang harus ku tulis. Ku paksakan untuk menulis beberapa kalimat tapi tidak ada
yang cocok, ku ulangi lagi tapi hasilnya sama dan tidak menarik. Tapi aku tidak
mungkin membiarkan tulisanku berakhir tanpa kepastian. Ini sama saja
membunuhku. Mungkinkah, Ibu berdoa pada Tuhan agar aku dibuat seperti ini
kemudian tidur ? Ku lirik jam dindingku yang baru menunjukkan pukul setengah
satu pagi. Tidak mungkin aku segera tidur ! Aku memutar otak, bangkit dari
tempat dudukku, berjalan-jalan sedikit, lalu minum air putih kemudian
melanjutkan tulisanku lagi. Tadi sepertinya aku mendapatkan ilham. Ku tuliskan
beberapa kalimat dan.....................gagal kembali ! Astaga !! Tuhan,
biarkan aku menyelesaikan ini. Hanya ini, setelah ini aku akan tidur. Ya, aku
berjanji.
Klik !
Sepertinya doa Ibulah yang menang. Listrik
padam dan laptopku mati seketika. Sempurna !! Mungkin Ibu akan menertawaiku
jika aku menceritakan ini. Aku mengusap wajahku yang berminyak. Baiklah, aku
akan tidur. Tuhanku, aku akan tidur seperti permintaan Ibu !
Aku memejamkan mataku, tapi aku membukanya
lagi. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, hingga sepuluh kali ku coba dan
sepertinya aku berhasil. Ya, akhirnya aku tertidur pulas. Tidak lama, ya aku
yakini mungkin hanya lima belas menit, aku terbangun lagi. Ku lihat listriknya
sudah menyala. Tapi bukan itu yang membuatku senang. Aku menyandarkan
punggungku di dinding. Terasa dingin tapi hanya pada punggungku. Bukankah tadi
aku melihat seseorang ? Aku yakini itu. Aku masih ingat rutinitasku hari ini,
per detiknya. Tapi tidak satupun dari mereka yang mempertemukan aku dengan pria
itu. Lagipula jarak kita kan jauh. Aku merasakan sesuatu yang aneh, tepatnya
disini, di jantungku. Ku rasakan jantung itu berdebar cepat. Astaga ! Bagaimana
ini bisa terjadi ?! Kemudian aku teringat kata Ibu, mungkinkah ? Karena tidur ?