Hari ini bukan yang pertama
kalinya Pram mengaduh kesal. Kerjaan berantakan, semua kerjasama dibatalkan
secara sepihak, hak sepatunya lepas disaat dia sedang berlari mengejar jadwal
hingga hampir menabrak pengendara sepeda motor di lampu merah. Dia sedang dalam
keadaan yang kacau hingga saat ini, di rumahnya sendiri. Tatapannya kosong,
tanpa ada satu niat pun menonton acara televisi kesukaannya yang sejak tadi
ditayangkan.
“Ji, katanya ada yang mau lo omongin. Mumpung gue lagi hancur hari
ini, omongin aja sekalian.” Kata Pram tanpa menatap sahabatnya yang duduk
disampingnya. Seorang wanita berambut panjang yang dikuncir asal hingga
menyisakan anak-anak rambutnya.
“Pram, lo gapapa kan ? Gue harap lo kuat.”
“Sampai hari ini gue masih hidup karena gue kuat, Ji.”
Wanita yang biasa disapa Jihan itu menghela nafas. Dia mulai memilah
kata-kata yang pas untuk diceritakan.
“Pram, gue ketemu Erna waktu itu. Lumayan lama sih, sekitar 1-2 minggu
yang lalu lah. Biasa lah kita cerita-cerita udah lama enggak ketemu. Hmm terus
tiba-tiba dia nanyain lo masih sama Adit enggak ? Ya gue jawab enggak lah !
Pram kan sekarang udah punya pacar...”
Jihan menghentikan ceritanya, melirik sebentar ke arah sahabatnya,
tidak ada reaksi apa-apa. Perasaannya mulai khawatir, tapi dia memutuskan untuk
melanjutkan lagi ceritanya.
“Dia cerita lagi, katanya dulu waktu lo deket sama Adit, lo pernah
ngelabrak Diva, soalnya lo enggak suka Diva deket juga sama Adit.” Jihan
kembali melirik sahabatnya yang kini sedang makan tiga tangkup wafer sekaligus
dan tangan kirinya menggenggam segelas sirup dingin. Sedangkan tatapannya masih
kosong ke arah televisi.
Jihan khawatir, karena tidak ada reaksi apapun dari Pram. Bahkan
sahabatnya kini memakan cemilan lainnya. Jihan ingin menanggapi, tapi dia takut
karena Pram orang yang sulit ditebak. Dia mengerti situasi ini. Bahkan dia
hafal jelas bagaimana cerita antara Pram dan masa lalunya itu. Disisi lain,
Jihan mulai merasakan hal ini. Sesuatu yang sudah lama dia musnahkan, kini
kembali lagi. Dia menyesal mengapa dulu dia mengenalkan Pram kepada salah satu
temannya, Adit.
“Itu kata siapa, Ji ? Maksud gue, kok dia bisa punya cerita kayak gitu
? Gue enggak tau ada cerita kayak gitu.” tanya Pram setengah emosi setelah
menghabiskan makanannya membuat Jihan berhenti dari lamunannya. Pram sudah
kembali pada kepribadian aslinya.
“Gue juga enggak tau Pram.”
“Jangan-jangan itu udah lama gosipnya ?” tanya Pram lagi. Kini
tangannya bebas dari cemilan dan minuman, dirinya ingin fokus dengan cerita
Jihan. Cerita yang membuat dia kalang kabut selama seminggu ini.
“Iya, dari kita SMA.”
“Itu sih lama banget, Ji ! Tapi selama itu gue enggak tau apa-apa !
Gini, maksud gue, gue enggak pernah ngerasa ngelabrak Diva dan sekarang mereka
bilang gue ngelabrak Diva. Konyolnya, ini semua karena gue enggak suka Diva
deket sama Adit. Ji, lo tau kan gimana cerita gue sama Adit ?”
“Iya gue tau. Gue pun bener-bener baru tau dari Erna pas kita ketemu
itu, Pram.”
“Erna tau dari siapa ?!”
“Anny.”
“Anny ?? Kok bisa ?”
“Yaelah Pram, kayak lo enggak tau Anny aja. Dia emang gitu orangnya.”
Pram menyandarkan punggungnya di sofa. Dunia seakan kini sedang
menghimpitnya. Entah mengapa logikanya tidak bisa menerima. Mengapa Anny,
mengapa ada cerita itu, mengapa dia yang harus menjadi karakter lain dalam
cerita itu. Ini lucu. Dirinya ingin menertawakan kebodohan orang-orang yang
mempercayai cerita itu, tapi dia sadar bahwa dirinya lah yang kini sedang
ditertawakan.
“Ji, apa jangan-jangan gara-gara itu Adit ninggalin gue ?” Pram kembali
menatap kosong ke arah televisi yang kini sudah berganti acara.
“Bisa jadi sih Pram, tapi ya sekarang kan lo udah pacar. Lo udah lebih
bahagia sama dia.”
Pram hanya tersenyum sinis saat mendengar kata bahagia. Tak bisa
dipungkiri dirinya kini sudah menemukan bahagianya dengan Olva, lukanya sudah
sembuh. Namun, hidup bukan hanya untuk jatuh cinta. Karir yang sudah dia bangun
sejak dulu, kini terancam diujung tombak. Media mulai mencari siapa dirinya
sejak berita itu mencuat ke permukaan. Benarkah Pram yang melakukannya ? Apa
komentar teman dekatnya tentang berita ini ? Apakah Pram mengidap suatu
kelainan atau sindrom karena terobsesi dengan pria ? Bahkan tak sedikit pun
media yang menanyakan soal latar belakang Pram dan keluarganya. Wanita itu kini
hanya menghela nafas. Dia sedikit bersyukur bahwa dirinya menjadi jahat hanya
dalam cerita dongeng anak remaja itu. Tiba-tiba handphonenya bergetar, pertanda ada pesan masuk. Dia membaca
sebentar pesan itu lalu meletakkan lagi handphonenya
diatas meja.
“Ji, gue mau mandi dulu. Gue capek banget hari ini. Thanks ya
infonya.” Kata Pram sambil berlalu menuju kamar mandi.
Jihan hanya mengangguk. Kini pikirannya melalang buana entah kemana.
Dia juga tidak mengerti mengapa Pram begitu ingin mengetahui hal ini, padahal
dia sudah beralasan ini itu agar Pram tidak menanyakannya lagi.
Jihan mulai bosan sendiri, dia menjelajahi seluruh isi ruangan itu dan
menemukan setumpuk koran diatas buvet. Dia mengambil salah satu koran terbaru
yang letaknya berada paling atas dari koran lainnya dan alangkah terkejutnya
dia melihat headline halaman pertama.
TERLIBAT
KASUS BULLYING PRAMESTA SASTRAWATI
TERANCAM DIDISKUALIFIKASI DARI AJANG PENGHARGAAN FILM NASIONAL
Jihan membaca ulang kalimat yang ditulis besar-besar dalam koran itu,
dia perhatikan lagi memang ada foto Pram disana. Kakinya lemas, dirinya hampir
jatuh jika tidak memegang pinggiran buvet itu. Belum selesai dengan rasa
kagetnya, handphone milik Pram bergetar.
Jihan langsung mengambil handphone
itu yang sengaja tidak dipassword
oleh pemiliknya. Ada satu pesan masuk dari Adri, manajernya.
From : Adri
Pram,
gue abis ketemu Prasta, pemred situs berita online yang pertama kali nyebarin
rumor itu. Dia bilang, akun yang nyebarin rumor lo di forum mereka soal ajang
penghargaan itu adalah salah satu temen SMA lo. Kalo lo mau lapor polisi, gue
temenin sekarang juga !
26 September 2015