badge

Sunday, 22 November 2015

PILIHAN LAIN


Malam itu, Naira mengemudikan mobilnya sendirian dengan kecepatan tinggi di jalanan Ibukota. Tangannya mengepal menggenggam stir mobil, matanya fokus menghadap jalanan didepan. Beberapa kali dia mengambil kesempatan untuk menyalip mobil lain yang ada di depannya dengan tiba-tiba dan beberapa kali juga nyawanya hampir melayang karena hampir menabrak mobil lain di pertigaan. Dia tidak memikirkan apapun saat ini, bahkan nyawanya sendiri. Air matanya terus mengalir kencang seiring laju mobil itu yang kini hampir menyentuh 120 km/jam. Dadanya terasa sakit saat menahan air matanya, namun semakin dia menahan air matanya, isak tangisnya semakin kencang terdengar.
“Brengsek !!” teriaknya. Tangannya memukul stir mobil dengan kencang hingga suara klaksonnya terdengar. Mobilnya oleng disalip mobil lain dibelakangnya. Dia terus mengencangkan laju mobilnya hingga tiba di sebuah apartemen mewah dan segera memakirkan mobilnya, lalu turun menuju apartemennya di lantai 20. Dia tidak memikirkan penampilannya yang berantakan saat ini, bahkan sama sekali tidak menghapus bekas air matanya. Isak tangisnya pun masih terdengar walau sangat pelan, tidak sedikit orang yang berpapasan merasa heran dan iba, tapi tidak berbuat apa-apa selain menjauh.
Apartemen itu terletak di paling ujung lantai 20. Sekilas seperti apartemen biasa tapi ketika siapa pun yang masuk ke dalamnya seperti sedang berada di istana. Dekorasinya mewah, warna emas hampir mendominasi di setiap sudutnya. Sudah 3 tahun Naira menempati apartemen itu, dia mengumpulkan uang dari gajinya untuk bisa tinggal di apartemen itu, jauh dari keluarganya, bukan karena dia tidak suka tinggal bersama mereka, melainkan dia lelah dengan semua yang terjadi disana dan memutuskan untuk tinggal sendiri.
Naira menghempaskan tubuhnya ke sofa, memijat-mijat kepalanya yang sakit. Tatapannya kosong ke arah televisi didepannya. Masih jelas terbayang apa yang terjadi tadi sebelum dia pulang. Lelaki itu dengan perempuan yang paling dia benci berada di ruangan tertutup, berbagi kemesraan layaknya sepasang kekasih. Beruntung dia memberi sedikit pelajaran kepada perempuan itu. Ya, perempuan itu. Anak dari istri muda ayahnya yang suka berlagak bersikap manis didepannya tapi ternyata mereka tidak lebih dari lintah darat. Seluruh harta ayahnya habis dilahap wanita itu dan anak putri kesayangannya, bahkan keluarganya tidak mendapatkan apa-apa dan membuat kedua orang tuanya hampir bercerai, sekolah Naira dan adiknya pun hampir terbengkalai. Setelah kedua perempuan itu mendapatkan semuanya, mereka pergi meninggalkan ayahnya ketika dia jatuh miskin dan sakit-sakitan. Dulu Ibunya, sekarang anaknya. Buah gak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Dia bilang cinta ?! Oke Ara, gue pastikan ini tidak akan selesai sampai lo merasakan sakit yang sama, pikirnya. Tangannya mengambil remote, menekan tombol play. Terdengar sebuah lagu melow dari radionya, mata bulatnya mulai terpejam seiring lagu I Know I’m Not the Only One dari Sam Smith.

“Gue turut berduka atas apa yang menimpa lo kemaren.” Kata Rio lalu menyeruput kopi panas didepannya.
“Gue serius, Yo.” Kata Naira dengan nada ketus.
Rio menghela nafas. “Yaudah, lo udah tau kan akhirnya ?? Tinggalin aja, cari deh cowo lain.. masih banyak yang mau sama lo, Nai.”
“Gue mau balas dendam dulu.”
Rio terperanjat mendengar kalimat yang keluar dari mulut wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak duduk di bangku kuliah.
“Nai, dendam itu enggak baik.. kan lo belajar agama dari dulu.. segitu cintanya lo sama Alvan ?!”
Naira tercekat mendengar pertanyaan Rio. Cinta ? Sepertinya dia hampir tidak mendengar kata itu semenjak berpacaran dengan Alvan. Selama ini dia hanya memikirkan uang dan karir, hal yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Dia hampir tidak pernah mempertanyakan bagaimana perassan Alvan padanya dan sekalipun tidak pernah menyatakan cinta pada lelaki itu. Padahal selama itu Alvan selalu memberikan perhatian dan kejutan yang diinginkan setiap wanita. Bahkan bagi teman-teman Naira, Alvan adalah paket komplit. Ganteng, kaya dan romantis. Naira merasakan sesuatu yang panas pada matanya, bulir-bulir air matanya jatuh tanpa sempat dia cegah. Rio yang dari tadi memperhatikan Naira merasa bersalah. “Nai, sorry. Gue enggak ada maksud...”
“Hiks.. minggu depan.. hiks.. gue tunangan Yo.” Tangis wanita itu pecah sejadi-jadinya. Rio menghampiri Naira, memeluknya dari samping, membiarkan Naira melampiaskan emosinya. Dia tidak peduli kemeja yang akan dipakai untuk meeting dengan clien itu basah oleh air mata sahabatnya.
“Gue.. enggak pernah merhatiin Alvan, yang cuma gue pikirin adalah gue mau hidup senang tanpa kesusahan kayak dulu.. tapi gue benci sama perempuan itu. Kenapa harus dia ?! Kenapa justru seminggu sebelum kita tunangan, wanita itu menghancurkan semuanya.. gue benci Yo sama dia !” Rio mengelus-elus kepala Naira. Dia tahu bagaimana hidup Naira dulu sampai dia seperti saat ini. Dia juga mengenal Ara, wanita yang dibenci sahabatnya ini, bahkan dia pernah mencoba menjalin hubungan dengan wanita itu dan benar saja dalam seminggu dia sudah mengeluarkan uang 30 juta untuk menyenangkan Ara, membelikannya baju, perhiasan, jalan-jalan keluar negeri bahkan makan di restoran mahal setiap hari. Baginya, wanita sama saja, tidak ada wanita yang tidak menyukai uang dan kemewahan. Begitu pula dengan Ara dan Naira, tapi dia bersyukur Naira terlahir sebagai wanita yang kuat dan mandiri, dia menjalani semua sendiri tanpa harus menghisap harta lelaki yang menjadi kekasihnya.
Isak tangis Naira sudah tidak terdengar, dia sudah lebih tenang sekarang. Wanita itu melepaskan diri dari pelukan Rio. “Gue mau balas dendam Yo.. perempuan itu harus merasakan apa yang gue rasain sejak dulu. Sejak Ibunya menghancurkan keluarga gue.” Kali ini Rio tidak menanggapinya, dia hanya berpikir hidup sebagai seorang Naira tidaklah mudah.

Suasana di kantor itu tidak seperti biasanya. Banyak orang berkumpul dan berbincang dengan nada sepelan mungkin. Rio berada di kantor itu sejak sejam yang lalu, tepatnya berada di ruangan ini. Ruang kantor Difa, salah satu teman dekatnya.
“Coba kemaren lusa lo kesini, Yo. Rame banget loh disini. Ada kejadian heboh !” Ujar lelaki kemayu itu. Kedua tangannya menari-nari saat berbicara, inilah yang membuat Rio kadang heran dan kagum dengan Difa.
“Kejadian heboh apa ?” tanya Rio meskipun dia tahu apa yang terjadi di kantor ini dari Naira.
“Naira berantem sama cewe simpanannya Alvan.. ih gue tuh emang enggak suka sama mereka dari awal, Alvan tuh sombongnyaaaaaa minta ampun ! Mentang-mentang ini perusahaan bokapnya semena-mena aja dia, apalagi si Ara tuh, males banget gue ngeliatnya.”
“Kok lo kenal Ara ?”
“Pertama, dia kan mantan lo dulu. Kedua, dulu gue satu tempat kerja sebelum disini. Dia sekretarisnya bos gue, terus dipecat deh gara-gara ketauan ada affair sama bos gue. Dilabrak dong dia sama istri bos gue, sampe dijambak rambutnya, ditarik-tarik keluar gitu. Lagian siapa suruh mesum di kantor.. jujur, gue nyesel banget sekarang kenapa dulu gue masukin dia di kantor ini. Tau gitu gue diemin aja sekalipun dia nyembah-nyembah di kaki gue.”
“Lo yang ngajak dia kerja disini ?”
“Sumpah demi Tuhan deh Yoooooo~ gue tadinya enggak mau ngajak dia kerja disini sekalipun performa dia tuh bagus banget tapi kalo liat attitudenya tuh astagaaaaaaaa, aduh gue enggak sanggup ngejelasin betapa murahannya dia.. sering banget ngegodain Alvan, Alvannya juga nanggepin lagi. Sama deh dua orang itu. Gue harap banget dua orang itu dienyahkan dari kantor ini.”
Rio tidak heran dengan cerita Difa tentang Ara, tapi yang membuat dia heran adalah hubungan Alvan dan Ara. Mereka sudah lama berselingkuh dibelakang Naira dan selama itu juga Alvan masih bisa bersikap baik didepan sahabatnya. Kurang ajar ! batinnya.
“Ngomong-ngomong ada apa nih yang ngebuat lo kesini ? Tumben.” Rio terperanjat mendengar suara lantang Difa. “Heh, lo ngelamun ya ?? Hayooo ngelamunin apa ?” tanya Difa membuat Rio salah tingkah.
“Gue mau minta tolong, lo kan atasannya Naira langsung. Gue yakin setelah kejadian itu dia pasti bad mood, gue mau lo bikin dia sibuk sampai dia lupa masalahnya.”
“Bentar, lo udah tau dong kejadian ini ?? Tuh kan emang feeling gue ! Kalian berdua saling suka ! Kalian kenapa enggak jadian aja sih ?? Cocok loh !”
“Ap.. apaan sih ?!.. Gue sama Naira enggak selevel. Gue cuma staff biasa di kantor.” Jawab Rio gelagapan.
“Staff biasa tapi cintanya luarrrrrr biasa.. gue tau lagi bunga mawar yang setiap hari di meja Naira itu dari lo kan ? Lo pikir gue enggak curiga, tiap pagi mamang-mamang yang nganter bunga itu kan gue tanya terus sampai akhirnya dia ngaku hahahaha..” Rio benar-benar kaget saat mendengar pengakuan Difa. Dia tidak bisa menyembunyikan apapun lagi sekarang dari lelaki ini.
“Hmm.. Udah ah, g..gue m..mau balik ke kantor lagi. Jangan lupa tadi pesenan gue !”
“Aahahahaha siap juragan !”
Rio segera keluar dari ruangan itu sebelum Difa makin membocorkan semuanya hingga orang lain mendengar. Dia tidak pernah tahu, selama percakapan itu Naira berada di luar ruangan mendengar semuanya dengan jelas dan wanita itu segera pergi.

Masih belum selesai hari ini, beberapa orang datang menyidak seluruh isi kantor. Sontak saja seluruh karyawan ribut karena ketakutan. Sebagian dari mereka menyita dokumen-dokumen kantor, sebagian lagi menginterogasi karyawan. Mereka menyidak ke semua sudut kantor termasuk ruangan pimpinan. Usut punya usut mereka datang karena kasus korupsi yang dilakukan oleh pimpinan perusahaan itu.
“Maaf, Bapak-Bapak ini siapa dan darimana ?”
“Anda Bapak Alvan ?”
“Ya, saya sendiri.”
Salah satu dari gerombolan orang itu menunjukkan selembar kertas berupa surat tugas. “Kami kesini atas dugaan kasus korupsi yang Bapak lakukan.”
“Tapi saya enggak pernah...”
“Silakan Bapak jelaskan di kantor.” Orang-orang itu langsung membawa Alvan keluar dari kantornya tanpa memberikan kesempatan lelaki itu menjelaskan.
Sementara itu, di sudut lain terdengar seorang wanita berteriak-teriak berusaha melepaskan diri dari genggaman beberapa lelaki yang menyeretnya keluar dari kantor. Alvan melihatnya, kekasih gelapnya-Ara- juga ikut ditangkap. Pikirannya berkecamuk, apa yang wanita itu lakukan ?
“Pak, kenapa Ara juga dibawa ?”
“Dia menerima uang hasil korupsi dari pejabat daerah.”
Alvan serasa ingin pingsan. Apa yang dia dengar tidak bisa dia percaya. Kenapa Ara menerima uang itu ? Tiba-tiba saja terlintas dipikirannya soal Naira, betapa dia menyesal saat ini meninggalkan wanita itu demi Ara. Naira memang mengejar uang dan karir tapi dia tidak pernah meminta uang atau barang sepeser pun kepadanya. Meskipun dia cuek, dia masih sempat mengingatkan makan karena dia tau Alvan punya penyakit maag. Harusnya Alvan memahami hal itu.
Setelah masuk kedalam mobil, Alvan sempat melihat Naira berdiri di depan pintu masuk kantor. Entah apa yang ada dipikiran wanita itu saat ini, yang jelas dirinya saat ini sangat malu. Apalagi dia baru menyadari bahwa tinggal menghitung hari dia akan bertunangan dengan Naira. Seharusnya hari itu akan menjadi hari bahagianya, tapi kini dia telah kehilangan segalanya. Uang dan cinta. Berbagai penyesalan kini membuncah dihati Alvan, seandainya dia bisa memutar waktu, dia tidak akan pernah mau membagikan cintanya kepada Naira dengan Ara.

Berbulan-bulan setelah kejadian itu, Naira memilih keluar dari kantor yang sudah bertahun-tahun menjadi tempatnya mencari uang. Dia membuka usaha sendiri dari tabungan yang dia punya. Kini hidupnya lebih tenang, penghasilannya pun tidak jauh berbeda dengan gaji yang dia dapat di kantornya dulu, tapi masih ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Rio.

Jam sudah menunjukkan pukul 4. Bagi siapa pun yang mengadu nasib dengan kerja kantoran, jam ini seperti oase di gurun pasir. Semua segera menyiapkan diri untuk pulang, sekalipun tetap tidak akan mudah untuk sampai ke rumah karena harus bergelut dengan kemacetan Jakarta. Termasuk Rio. Lelaki itu sudah bersiap untuk pulang ke rumah. Saat menuju lobi, dia berpapasan dengan Siti, office girl kantor.
“Eh, Mas Korea ! Cieee, udah punya pacar enggak bilang-bilang.. ihiy~” goda Siti.
“Pacar ? Kan pacar aku kamu~” Rio balik menggoda Siti. Dia tidak pernah keberatan dipanggil Mas Korea oleh Siti, karena perawakannya yang mirip aktor-aktor Korea kegemaran Siti, tapi hanya Siti yang boleh memanggilnya seperti itu.
“Ih Mas Korea, Siti serius ! Buktinya di lobi ada cewe yang lagi nungguin Mas Korea. Katanya pacarnya, cantik lagi.. Siti jealous deh.”
Rio mengernyitkan dahinya. “Cewe ?” Siti mengangguk menjawab pertanyaan Rio. Lelaki itu langsung meninggalkan tempat itu menuju lobi yang tadi dibilang oelh Siti dan benar saja dia melihat seorang wanita yang sangat dia kenal duduk menunggu sambil membaca majalah. Seperti merasakan kehadirannya, dia menoleh ke arah Rio sambil tersenyum.
“Kok tumben kesini ?” tanya Rio setelah mereka saling berhadapan.
“Ngajak pulang bareng.”
“Pulang sendiri emang enggak bisa ?.. Manja. Gue naik bis, enggak bawa mobil.”
Naira menunjukkan kunci mobilnya ke hadapan Rio.
“Harus gue juga yang bawa ?”
“Gue lagi capek.” Ujar Naira manja.
Rio mengambil kunci mobil dari tangan Naira. “Sogokannya apa nih ?”
“Hmm.. jadi pacar ?”
“Gue enggak nyari pacar, nyari istri.”
“Itu juga boleh.” Sahut Naira tersenyum sumringah. Kemudian mereka berjalan keluar kantor bersama.
“Tadi siapa sih ? Office girl ya ? Jutek banget nanyanya.” Tanya Naira yang dibalas senyuman oleh Rio.
Rio tidak pernah berpikir bahwa dia akan menemui hari ini. Hari dimana dia bisa selalu disisi Naira, hari dimana dia bisa bermimpi di masa depan dengan wanita yang dia cintai. Dia sendiri tidak pernah terobsesi dengan uang seumur hidupnya. Mungkin mulai hari ini, dia akan bergelut mencari uang, itupun untuk Naira dan mereka.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh CekAja.com dan Nulisbuku.com

Friday, 9 October 2015

Cemburu



Aku cemburu
Pada waktumu
Dimana kesendirianmu seakan seperti tembok besi yang kuncinya entah kau buang kemana
Sayang, seandainya aku adalah waktu
Aku akan menghentikan diriku
Sehingga hanya ada kita berdua
Dalam renungan yang panjang
Saling menatap dan tak teralihkan

Saturday, 26 September 2015

A Little Bad Past

Hari ini bukan yang pertama kalinya Pram mengaduh kesal. Kerjaan berantakan, semua kerjasama dibatalkan secara sepihak, hak sepatunya lepas disaat dia sedang berlari mengejar jadwal hingga hampir menabrak pengendara sepeda motor di lampu merah. Dia sedang dalam keadaan yang kacau hingga saat ini, di rumahnya sendiri. Tatapannya kosong, tanpa ada satu niat pun menonton acara televisi kesukaannya yang sejak tadi ditayangkan.

“Ji, katanya ada yang mau lo omongin. Mumpung gue lagi hancur hari ini, omongin aja sekalian.” Kata Pram tanpa menatap sahabatnya yang duduk disampingnya. Seorang wanita berambut panjang yang dikuncir asal hingga menyisakan anak-anak rambutnya.
“Pram, lo gapapa kan ? Gue harap lo kuat.”
“Sampai hari ini gue masih hidup karena gue kuat, Ji.”
Wanita yang biasa disapa Jihan itu menghela nafas. Dia mulai memilah kata-kata yang pas untuk diceritakan.
“Pram, gue ketemu Erna waktu itu. Lumayan lama sih, sekitar 1-2 minggu yang lalu lah. Biasa lah kita cerita-cerita udah lama enggak ketemu. Hmm terus tiba-tiba dia nanyain lo masih sama Adit enggak ? Ya gue jawab enggak lah ! Pram kan sekarang udah punya pacar...”
Jihan menghentikan ceritanya, melirik sebentar ke arah sahabatnya, tidak ada reaksi apa-apa. Perasaannya mulai khawatir, tapi dia memutuskan untuk melanjutkan lagi ceritanya.
“Dia cerita lagi, katanya dulu waktu lo deket sama Adit, lo pernah ngelabrak Diva, soalnya lo enggak suka Diva deket juga sama Adit.” Jihan kembali melirik sahabatnya yang kini sedang makan tiga tangkup wafer sekaligus dan tangan kirinya menggenggam segelas sirup dingin. Sedangkan tatapannya masih kosong ke arah televisi.
Jihan khawatir, karena tidak ada reaksi apapun dari Pram. Bahkan sahabatnya kini memakan cemilan lainnya. Jihan ingin menanggapi, tapi dia takut karena Pram orang yang sulit ditebak. Dia mengerti situasi ini. Bahkan dia hafal jelas bagaimana cerita antara Pram dan masa lalunya itu. Disisi lain, Jihan mulai merasakan hal ini. Sesuatu yang sudah lama dia musnahkan, kini kembali lagi. Dia menyesal mengapa dulu dia mengenalkan Pram kepada salah satu temannya, Adit.
“Itu kata siapa, Ji ? Maksud gue, kok dia bisa punya cerita kayak gitu ? Gue enggak tau ada cerita kayak gitu.” tanya Pram setengah emosi setelah menghabiskan makanannya membuat Jihan berhenti dari lamunannya. Pram sudah kembali pada kepribadian aslinya.
“Gue juga enggak tau Pram.”
“Jangan-jangan itu udah lama gosipnya ?” tanya Pram lagi. Kini tangannya bebas dari cemilan dan minuman, dirinya ingin fokus dengan cerita Jihan. Cerita yang membuat dia kalang kabut selama seminggu ini.
“Iya, dari kita SMA.”
“Itu sih lama banget, Ji ! Tapi selama itu gue enggak tau apa-apa ! Gini, maksud gue, gue enggak pernah ngerasa ngelabrak Diva dan sekarang mereka bilang gue ngelabrak Diva. Konyolnya, ini semua karena gue enggak suka Diva deket sama Adit. Ji, lo tau kan gimana cerita gue sama Adit ?”
“Iya gue tau. Gue pun bener-bener baru tau dari Erna pas kita ketemu itu, Pram.”
“Erna tau dari siapa ?!”
“Anny.”
“Anny ?? Kok bisa ?”
“Yaelah Pram, kayak lo enggak tau Anny aja. Dia emang gitu orangnya.”

Pram menyandarkan punggungnya di sofa. Dunia seakan kini sedang menghimpitnya. Entah mengapa logikanya tidak bisa menerima. Mengapa Anny, mengapa ada cerita itu, mengapa dia yang harus menjadi karakter lain dalam cerita itu. Ini lucu. Dirinya ingin menertawakan kebodohan orang-orang yang mempercayai cerita itu, tapi dia sadar bahwa dirinya lah yang kini sedang ditertawakan.
“Ji, apa jangan-jangan gara-gara itu Adit ninggalin gue ?” Pram kembali menatap kosong ke arah televisi yang kini sudah berganti acara.
“Bisa jadi sih Pram, tapi ya sekarang kan lo udah pacar. Lo udah lebih bahagia sama dia.”

Pram hanya tersenyum sinis saat mendengar kata bahagia. Tak bisa dipungkiri dirinya kini sudah menemukan bahagianya dengan Olva, lukanya sudah sembuh. Namun, hidup bukan hanya untuk jatuh cinta. Karir yang sudah dia bangun sejak dulu, kini terancam diujung tombak. Media mulai mencari siapa dirinya sejak berita itu mencuat ke permukaan. Benarkah Pram yang melakukannya ? Apa komentar teman dekatnya tentang berita ini ? Apakah Pram mengidap suatu kelainan atau sindrom karena terobsesi dengan pria ? Bahkan tak sedikit pun media yang menanyakan soal latar belakang Pram dan keluarganya. Wanita itu kini hanya menghela nafas. Dia sedikit bersyukur bahwa dirinya menjadi jahat hanya dalam cerita dongeng anak remaja itu. Tiba-tiba handphonenya bergetar, pertanda ada pesan masuk. Dia membaca sebentar pesan itu lalu meletakkan lagi handphonenya diatas meja.

“Ji, gue mau mandi dulu. Gue capek banget hari ini. Thanks ya infonya.” Kata Pram sambil berlalu menuju kamar mandi.

Jihan hanya mengangguk. Kini pikirannya melalang buana entah kemana. Dia juga tidak mengerti mengapa Pram begitu ingin mengetahui hal ini, padahal dia sudah beralasan ini itu agar Pram tidak menanyakannya lagi.
Jihan mulai bosan sendiri, dia menjelajahi seluruh isi ruangan itu dan menemukan setumpuk koran diatas buvet. Dia mengambil salah satu koran terbaru yang letaknya berada paling atas dari koran lainnya dan alangkah terkejutnya dia melihat headline halaman pertama.


TERLIBAT KASUS BULLYING PRAMESTA SASTRAWATI TERANCAM DIDISKUALIFIKASI DARI AJANG PENGHARGAAN FILM NASIONAL

Jihan membaca ulang kalimat yang ditulis besar-besar dalam koran itu, dia perhatikan lagi memang ada foto Pram disana. Kakinya lemas, dirinya hampir jatuh jika tidak memegang pinggiran buvet itu. Belum selesai dengan rasa kagetnya, handphone milik Pram bergetar. Jihan langsung mengambil handphone itu yang sengaja tidak dipassword oleh pemiliknya. Ada satu pesan masuk dari Adri, manajernya.

From : Adri
Pram, gue abis ketemu Prasta, pemred situs berita online yang pertama kali nyebarin rumor itu. Dia bilang, akun yang nyebarin rumor lo di forum mereka soal ajang penghargaan itu adalah salah satu temen SMA lo. Kalo lo mau lapor polisi, gue temenin sekarang juga !



26 September 2015

Thursday, 13 August 2015


Katakanlah saat ini kau lelah dan kami juga harus ikut menyerah, tapi bagaimana dengan janji-janji yang sudah kau ucapkan berkali-kali ? Bahkan Malaikat mungkin sudah mencatatnya hingga penuh buku-bukunya

Tolong jangan katakan menyerah jika padamu waktu yang kau gadaikan tidak bersama kami bertahun-tahun lamanya itu tak akan pernah bisa kau gantikan lagi sekarang.

Bisakah kau jelaskan bahwa hanya dengan mengingatmu saja jantungku berdegup kencang ?

Sunday, 5 April 2015

Kemudian langit cerah secerah wajah Putri Pelangi yang baru keluar dari rumah untuk menyapa rakyat bumi yang sangat menggilainya. Semenit dua menit hingga Putri dipanggil pulang dan tidak boleh keluar hingga hujan berikutnya.

KOSONG

Sunday, 15 March 2015

DERAP


Hujan yang menghentikan
Terik yang meninggalkan
Derap langkah dalam satu tarikan nafas
Pada jalanan yang basah
Atau bunga-bunga yang mengering
Denting piano yang akan mengiringi tiap jengkal kakinya
Menuju kanan atau kiri jalan
Padanya dia hanya bisa berhenti di persimpangan
Berbicara halus tanpa bisa didengar orang
Tegap dan tak mendengar
Berhenti atau dihentikan
Maju terus dan tak pernah lagi menoleh ke belakang

Tuesday, 30 December 2014


Maka berdoalah kita pada Sang Pencipta Waktu.
Agar Dia sudi memberikan padaku sedetik.
Sedetik yang terus berdetak.
Sedetik yang bisa menghadirkanmu disini.

Sedetik yang membawaku pada dia.
Dia yang mengiba untuk terus bersamaku saat kita tidak bersama.
Jangan paksa aku menghentikannya.
Biarkan udara yang melarutkannya didalam tubuhku.

Menyatu dengan darah yang membawanya ke jantung.
Memburunya hingga terus berdetak.
Menciptakan seraut wajahmu dalam angan.
Memaksaku untuk menghadirkannya lagi dan lagi.

Sudahlah aku tidak mau berbasa basi lagi.
Aku rindu kamu.