badge

Saturday, 26 September 2015

A Little Bad Past

Hari ini bukan yang pertama kalinya Pram mengaduh kesal. Kerjaan berantakan, semua kerjasama dibatalkan secara sepihak, hak sepatunya lepas disaat dia sedang berlari mengejar jadwal hingga hampir menabrak pengendara sepeda motor di lampu merah. Dia sedang dalam keadaan yang kacau hingga saat ini, di rumahnya sendiri. Tatapannya kosong, tanpa ada satu niat pun menonton acara televisi kesukaannya yang sejak tadi ditayangkan.

“Ji, katanya ada yang mau lo omongin. Mumpung gue lagi hancur hari ini, omongin aja sekalian.” Kata Pram tanpa menatap sahabatnya yang duduk disampingnya. Seorang wanita berambut panjang yang dikuncir asal hingga menyisakan anak-anak rambutnya.
“Pram, lo gapapa kan ? Gue harap lo kuat.”
“Sampai hari ini gue masih hidup karena gue kuat, Ji.”
Wanita yang biasa disapa Jihan itu menghela nafas. Dia mulai memilah kata-kata yang pas untuk diceritakan.
“Pram, gue ketemu Erna waktu itu. Lumayan lama sih, sekitar 1-2 minggu yang lalu lah. Biasa lah kita cerita-cerita udah lama enggak ketemu. Hmm terus tiba-tiba dia nanyain lo masih sama Adit enggak ? Ya gue jawab enggak lah ! Pram kan sekarang udah punya pacar...”
Jihan menghentikan ceritanya, melirik sebentar ke arah sahabatnya, tidak ada reaksi apa-apa. Perasaannya mulai khawatir, tapi dia memutuskan untuk melanjutkan lagi ceritanya.
“Dia cerita lagi, katanya dulu waktu lo deket sama Adit, lo pernah ngelabrak Diva, soalnya lo enggak suka Diva deket juga sama Adit.” Jihan kembali melirik sahabatnya yang kini sedang makan tiga tangkup wafer sekaligus dan tangan kirinya menggenggam segelas sirup dingin. Sedangkan tatapannya masih kosong ke arah televisi.
Jihan khawatir, karena tidak ada reaksi apapun dari Pram. Bahkan sahabatnya kini memakan cemilan lainnya. Jihan ingin menanggapi, tapi dia takut karena Pram orang yang sulit ditebak. Dia mengerti situasi ini. Bahkan dia hafal jelas bagaimana cerita antara Pram dan masa lalunya itu. Disisi lain, Jihan mulai merasakan hal ini. Sesuatu yang sudah lama dia musnahkan, kini kembali lagi. Dia menyesal mengapa dulu dia mengenalkan Pram kepada salah satu temannya, Adit.
“Itu kata siapa, Ji ? Maksud gue, kok dia bisa punya cerita kayak gitu ? Gue enggak tau ada cerita kayak gitu.” tanya Pram setengah emosi setelah menghabiskan makanannya membuat Jihan berhenti dari lamunannya. Pram sudah kembali pada kepribadian aslinya.
“Gue juga enggak tau Pram.”
“Jangan-jangan itu udah lama gosipnya ?” tanya Pram lagi. Kini tangannya bebas dari cemilan dan minuman, dirinya ingin fokus dengan cerita Jihan. Cerita yang membuat dia kalang kabut selama seminggu ini.
“Iya, dari kita SMA.”
“Itu sih lama banget, Ji ! Tapi selama itu gue enggak tau apa-apa ! Gini, maksud gue, gue enggak pernah ngerasa ngelabrak Diva dan sekarang mereka bilang gue ngelabrak Diva. Konyolnya, ini semua karena gue enggak suka Diva deket sama Adit. Ji, lo tau kan gimana cerita gue sama Adit ?”
“Iya gue tau. Gue pun bener-bener baru tau dari Erna pas kita ketemu itu, Pram.”
“Erna tau dari siapa ?!”
“Anny.”
“Anny ?? Kok bisa ?”
“Yaelah Pram, kayak lo enggak tau Anny aja. Dia emang gitu orangnya.”

Pram menyandarkan punggungnya di sofa. Dunia seakan kini sedang menghimpitnya. Entah mengapa logikanya tidak bisa menerima. Mengapa Anny, mengapa ada cerita itu, mengapa dia yang harus menjadi karakter lain dalam cerita itu. Ini lucu. Dirinya ingin menertawakan kebodohan orang-orang yang mempercayai cerita itu, tapi dia sadar bahwa dirinya lah yang kini sedang ditertawakan.
“Ji, apa jangan-jangan gara-gara itu Adit ninggalin gue ?” Pram kembali menatap kosong ke arah televisi yang kini sudah berganti acara.
“Bisa jadi sih Pram, tapi ya sekarang kan lo udah pacar. Lo udah lebih bahagia sama dia.”

Pram hanya tersenyum sinis saat mendengar kata bahagia. Tak bisa dipungkiri dirinya kini sudah menemukan bahagianya dengan Olva, lukanya sudah sembuh. Namun, hidup bukan hanya untuk jatuh cinta. Karir yang sudah dia bangun sejak dulu, kini terancam diujung tombak. Media mulai mencari siapa dirinya sejak berita itu mencuat ke permukaan. Benarkah Pram yang melakukannya ? Apa komentar teman dekatnya tentang berita ini ? Apakah Pram mengidap suatu kelainan atau sindrom karena terobsesi dengan pria ? Bahkan tak sedikit pun media yang menanyakan soal latar belakang Pram dan keluarganya. Wanita itu kini hanya menghela nafas. Dia sedikit bersyukur bahwa dirinya menjadi jahat hanya dalam cerita dongeng anak remaja itu. Tiba-tiba handphonenya bergetar, pertanda ada pesan masuk. Dia membaca sebentar pesan itu lalu meletakkan lagi handphonenya diatas meja.

“Ji, gue mau mandi dulu. Gue capek banget hari ini. Thanks ya infonya.” Kata Pram sambil berlalu menuju kamar mandi.

Jihan hanya mengangguk. Kini pikirannya melalang buana entah kemana. Dia juga tidak mengerti mengapa Pram begitu ingin mengetahui hal ini, padahal dia sudah beralasan ini itu agar Pram tidak menanyakannya lagi.
Jihan mulai bosan sendiri, dia menjelajahi seluruh isi ruangan itu dan menemukan setumpuk koran diatas buvet. Dia mengambil salah satu koran terbaru yang letaknya berada paling atas dari koran lainnya dan alangkah terkejutnya dia melihat headline halaman pertama.


TERLIBAT KASUS BULLYING PRAMESTA SASTRAWATI TERANCAM DIDISKUALIFIKASI DARI AJANG PENGHARGAAN FILM NASIONAL

Jihan membaca ulang kalimat yang ditulis besar-besar dalam koran itu, dia perhatikan lagi memang ada foto Pram disana. Kakinya lemas, dirinya hampir jatuh jika tidak memegang pinggiran buvet itu. Belum selesai dengan rasa kagetnya, handphone milik Pram bergetar. Jihan langsung mengambil handphone itu yang sengaja tidak dipassword oleh pemiliknya. Ada satu pesan masuk dari Adri, manajernya.

From : Adri
Pram, gue abis ketemu Prasta, pemred situs berita online yang pertama kali nyebarin rumor itu. Dia bilang, akun yang nyebarin rumor lo di forum mereka soal ajang penghargaan itu adalah salah satu temen SMA lo. Kalo lo mau lapor polisi, gue temenin sekarang juga !



26 September 2015

No comments:

Post a Comment