Malam
itu, Naira mengemudikan mobilnya sendirian dengan kecepatan tinggi di jalanan
Ibukota. Tangannya mengepal menggenggam stir mobil, matanya fokus menghadap
jalanan didepan. Beberapa kali dia mengambil kesempatan untuk menyalip mobil
lain yang ada di depannya dengan tiba-tiba dan beberapa kali juga nyawanya
hampir melayang karena hampir menabrak mobil lain di pertigaan. Dia tidak
memikirkan apapun saat ini, bahkan nyawanya sendiri. Air matanya terus mengalir
kencang seiring laju mobil itu yang kini hampir menyentuh 120 km/jam. Dadanya
terasa sakit saat menahan air matanya, namun semakin dia menahan air matanya,
isak tangisnya semakin kencang terdengar.
“Brengsek
!!” teriaknya. Tangannya memukul stir mobil dengan kencang hingga suara klaksonnya
terdengar. Mobilnya oleng disalip mobil lain dibelakangnya. Dia terus
mengencangkan laju mobilnya hingga tiba di sebuah apartemen mewah dan segera
memakirkan mobilnya, lalu turun menuju apartemennya di lantai 20. Dia tidak
memikirkan penampilannya yang berantakan saat ini, bahkan sama sekali tidak
menghapus bekas air matanya. Isak tangisnya pun masih terdengar walau sangat
pelan, tidak sedikit orang yang berpapasan merasa heran dan iba, tapi tidak
berbuat apa-apa selain menjauh.
Apartemen
itu terletak di paling ujung lantai 20. Sekilas seperti apartemen biasa tapi
ketika siapa pun yang masuk ke dalamnya seperti sedang berada di istana.
Dekorasinya mewah, warna emas hampir mendominasi di setiap sudutnya. Sudah 3
tahun Naira menempati apartemen itu, dia mengumpulkan uang dari gajinya untuk
bisa tinggal di apartemen itu, jauh dari keluarganya, bukan karena dia tidak
suka tinggal bersama mereka, melainkan dia lelah dengan semua yang terjadi
disana dan memutuskan untuk tinggal sendiri.
Naira
menghempaskan tubuhnya ke sofa, memijat-mijat kepalanya yang sakit. Tatapannya
kosong ke arah televisi didepannya. Masih jelas terbayang apa yang terjadi tadi
sebelum dia pulang. Lelaki itu dengan perempuan yang paling dia benci berada di
ruangan tertutup, berbagi kemesraan layaknya sepasang kekasih. Beruntung dia
memberi sedikit pelajaran kepada perempuan itu. Ya, perempuan itu. Anak dari
istri muda ayahnya yang suka berlagak bersikap manis didepannya tapi ternyata
mereka tidak lebih dari lintah darat. Seluruh harta ayahnya habis dilahap
wanita itu dan anak putri kesayangannya, bahkan keluarganya tidak mendapatkan
apa-apa dan membuat kedua orang tuanya hampir bercerai, sekolah Naira dan
adiknya pun hampir terbengkalai. Setelah kedua perempuan itu mendapatkan
semuanya, mereka pergi meninggalkan ayahnya ketika dia jatuh miskin dan
sakit-sakitan. Dulu Ibunya, sekarang
anaknya. Buah gak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Dia bilang cinta ?! Oke Ara,
gue pastikan ini tidak akan selesai sampai lo merasakan sakit yang sama, pikirnya.
Tangannya mengambil remote, menekan tombol play. Terdengar sebuah lagu melow
dari radionya, mata bulatnya mulai terpejam seiring lagu I Know I’m Not the
Only One dari Sam Smith.
“Gue
turut berduka atas apa yang menimpa lo kemaren.” Kata Rio lalu menyeruput kopi
panas didepannya.
“Gue
serius, Yo.” Kata Naira dengan nada ketus.
Rio
menghela nafas. “Yaudah, lo udah tau kan akhirnya ?? Tinggalin aja, cari deh
cowo lain.. masih banyak yang mau sama lo, Nai.”
“Gue
mau balas dendam dulu.”
Rio
terperanjat mendengar kalimat yang keluar dari mulut wanita yang sudah menjadi
sahabatnya sejak duduk di bangku kuliah.
“Nai,
dendam itu enggak baik.. kan lo belajar agama dari dulu.. segitu cintanya lo
sama Alvan ?!”
Naira
tercekat mendengar pertanyaan Rio. Cinta ? Sepertinya dia hampir tidak
mendengar kata itu semenjak berpacaran dengan Alvan. Selama ini dia hanya
memikirkan uang dan karir, hal yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Dia
hampir tidak pernah mempertanyakan bagaimana perassan Alvan padanya dan
sekalipun tidak pernah menyatakan cinta pada lelaki itu. Padahal selama itu
Alvan selalu memberikan perhatian dan kejutan yang diinginkan setiap wanita.
Bahkan bagi teman-teman Naira, Alvan adalah paket komplit. Ganteng, kaya dan
romantis. Naira merasakan sesuatu yang panas pada matanya, bulir-bulir air
matanya jatuh tanpa sempat dia cegah. Rio yang dari tadi memperhatikan Naira
merasa bersalah. “Nai, sorry. Gue
enggak ada maksud...”
“Hiks..
minggu depan.. hiks.. gue tunangan Yo.” Tangis wanita itu pecah sejadi-jadinya.
Rio menghampiri Naira, memeluknya dari samping, membiarkan Naira melampiaskan
emosinya. Dia tidak peduli kemeja yang akan dipakai untuk meeting dengan clien itu basah oleh air mata
sahabatnya.
“Gue..
enggak pernah merhatiin Alvan, yang cuma gue pikirin adalah gue mau hidup
senang tanpa kesusahan kayak dulu.. tapi gue benci sama perempuan itu. Kenapa
harus dia ?! Kenapa justru seminggu sebelum kita tunangan, wanita itu
menghancurkan semuanya.. gue benci Yo sama dia !” Rio mengelus-elus kepala
Naira. Dia tahu bagaimana hidup Naira dulu sampai dia seperti saat ini. Dia
juga mengenal Ara, wanita yang dibenci sahabatnya ini, bahkan dia pernah
mencoba menjalin hubungan dengan wanita itu dan benar saja dalam seminggu dia
sudah mengeluarkan uang 30 juta untuk menyenangkan Ara, membelikannya baju,
perhiasan, jalan-jalan keluar negeri bahkan makan di restoran mahal setiap hari.
Baginya, wanita sama saja, tidak ada wanita yang tidak menyukai uang dan
kemewahan. Begitu pula dengan Ara dan Naira, tapi dia bersyukur Naira terlahir
sebagai wanita yang kuat dan mandiri, dia menjalani semua sendiri tanpa harus
menghisap harta lelaki yang menjadi kekasihnya.
Isak
tangis Naira sudah tidak terdengar, dia sudah lebih tenang sekarang. Wanita itu
melepaskan diri dari pelukan Rio. “Gue mau balas dendam Yo.. perempuan itu
harus merasakan apa yang gue rasain sejak dulu. Sejak Ibunya menghancurkan
keluarga gue.” Kali ini Rio tidak menanggapinya, dia hanya berpikir hidup
sebagai seorang Naira tidaklah mudah.
Suasana
di kantor itu tidak seperti biasanya. Banyak orang berkumpul dan berbincang
dengan nada sepelan mungkin. Rio berada di kantor itu sejak sejam yang lalu,
tepatnya berada di ruangan ini. Ruang kantor Difa, salah satu teman dekatnya.
“Coba
kemaren lusa lo kesini, Yo. Rame banget loh disini. Ada kejadian heboh !” Ujar
lelaki kemayu itu. Kedua tangannya menari-nari saat berbicara, inilah yang
membuat Rio kadang heran dan kagum dengan Difa.
“Kejadian
heboh apa ?” tanya Rio meskipun dia tahu apa yang terjadi di kantor ini dari Naira.
“Naira
berantem sama cewe simpanannya Alvan.. ih gue tuh emang enggak suka sama mereka
dari awal, Alvan tuh sombongnyaaaaaa minta ampun ! Mentang-mentang ini
perusahaan bokapnya semena-mena aja dia, apalagi si Ara tuh, males banget gue
ngeliatnya.”
“Kok
lo kenal Ara ?”
“Pertama,
dia kan mantan lo dulu. Kedua, dulu gue satu tempat kerja sebelum disini. Dia
sekretarisnya bos gue, terus dipecat deh gara-gara ketauan ada affair sama bos gue. Dilabrak dong dia
sama istri bos gue, sampe dijambak rambutnya, ditarik-tarik keluar gitu. Lagian
siapa suruh mesum di kantor.. jujur, gue nyesel banget sekarang kenapa dulu gue
masukin dia di kantor ini. Tau gitu gue diemin aja sekalipun dia
nyembah-nyembah di kaki gue.”
“Lo
yang ngajak dia kerja disini ?”
“Sumpah
demi Tuhan deh Yoooooo~ gue tadinya enggak mau ngajak dia kerja disini
sekalipun performa dia tuh bagus banget tapi kalo liat attitudenya tuh astagaaaaaaaa, aduh gue enggak sanggup ngejelasin
betapa murahannya dia.. sering banget ngegodain Alvan, Alvannya juga nanggepin
lagi. Sama deh dua orang itu. Gue harap banget dua orang itu dienyahkan dari
kantor ini.”
Rio
tidak heran dengan cerita Difa tentang Ara, tapi yang membuat dia heran adalah
hubungan Alvan dan Ara. Mereka sudah lama berselingkuh dibelakang Naira dan
selama itu juga Alvan masih bisa bersikap baik didepan sahabatnya. Kurang ajar ! batinnya.
“Ngomong-ngomong
ada apa nih yang ngebuat lo kesini ? Tumben.” Rio terperanjat mendengar suara
lantang Difa. “Heh, lo ngelamun ya ?? Hayooo ngelamunin apa ?” tanya Difa
membuat Rio salah tingkah.
“Gue
mau minta tolong, lo kan atasannya Naira langsung. Gue yakin setelah kejadian
itu dia pasti bad mood, gue mau lo
bikin dia sibuk sampai dia lupa masalahnya.”
“Bentar,
lo udah tau dong kejadian ini ?? Tuh kan emang feeling gue ! Kalian berdua saling suka ! Kalian kenapa enggak
jadian aja sih ?? Cocok loh !”
“Ap..
apaan sih ?!.. Gue sama Naira enggak selevel. Gue cuma staff biasa di kantor.”
Jawab Rio gelagapan.
“Staff
biasa tapi cintanya luarrrrrr biasa.. gue tau lagi bunga mawar yang setiap hari
di meja Naira itu dari lo kan ? Lo pikir gue enggak curiga, tiap pagi
mamang-mamang yang nganter bunga itu kan gue tanya terus sampai akhirnya dia
ngaku hahahaha..” Rio benar-benar kaget saat mendengar pengakuan Difa. Dia tidak
bisa menyembunyikan apapun lagi sekarang dari lelaki ini.
“Hmm..
Udah ah, g..gue m..mau balik ke kantor lagi. Jangan lupa tadi pesenan gue !”
“Aahahahaha
siap juragan !”
Rio
segera keluar dari ruangan itu sebelum Difa makin membocorkan semuanya hingga
orang lain mendengar. Dia tidak pernah tahu, selama percakapan itu Naira berada
di luar ruangan mendengar semuanya dengan jelas dan wanita itu segera pergi.
Masih
belum selesai hari ini, beberapa orang datang menyidak seluruh isi kantor.
Sontak saja seluruh karyawan ribut karena ketakutan. Sebagian dari mereka
menyita dokumen-dokumen kantor, sebagian lagi menginterogasi karyawan. Mereka
menyidak ke semua sudut kantor termasuk ruangan pimpinan. Usut punya usut
mereka datang karena kasus korupsi yang dilakukan oleh pimpinan perusahaan itu.
“Maaf,
Bapak-Bapak ini siapa dan darimana ?”
“Anda
Bapak Alvan ?”
“Ya,
saya sendiri.”
Salah
satu dari gerombolan orang itu menunjukkan selembar kertas berupa surat tugas.
“Kami kesini atas dugaan kasus korupsi yang Bapak lakukan.”
“Tapi
saya enggak pernah...”
“Silakan
Bapak jelaskan di kantor.” Orang-orang itu langsung membawa Alvan keluar dari
kantornya tanpa memberikan kesempatan lelaki itu menjelaskan.
Sementara
itu, di sudut lain terdengar seorang wanita berteriak-teriak berusaha
melepaskan diri dari genggaman beberapa lelaki yang menyeretnya keluar dari
kantor. Alvan melihatnya, kekasih gelapnya-Ara- juga ikut ditangkap. Pikirannya
berkecamuk, apa yang wanita itu lakukan ?
“Pak,
kenapa Ara juga dibawa ?”
“Dia
menerima uang hasil korupsi dari pejabat daerah.”
Alvan
serasa ingin pingsan. Apa yang dia dengar tidak bisa dia percaya. Kenapa Ara
menerima uang itu ? Tiba-tiba saja terlintas dipikirannya soal Naira, betapa
dia menyesal saat ini meninggalkan wanita itu demi Ara. Naira memang mengejar
uang dan karir tapi dia tidak pernah meminta uang atau barang sepeser pun
kepadanya. Meskipun dia cuek, dia masih sempat mengingatkan makan karena dia
tau Alvan punya penyakit maag. Harusnya Alvan memahami hal itu.
Setelah
masuk kedalam mobil, Alvan sempat melihat Naira berdiri di depan pintu masuk
kantor. Entah apa yang ada dipikiran wanita itu saat ini, yang jelas dirinya
saat ini sangat malu. Apalagi dia baru menyadari bahwa tinggal menghitung hari
dia akan bertunangan dengan Naira. Seharusnya hari itu akan menjadi hari
bahagianya, tapi kini dia telah kehilangan segalanya. Uang dan cinta. Berbagai
penyesalan kini membuncah dihati Alvan, seandainya dia bisa memutar waktu, dia
tidak akan pernah mau membagikan cintanya kepada Naira dengan Ara.
Berbulan-bulan
setelah kejadian itu, Naira memilih keluar dari kantor yang sudah bertahun-tahun
menjadi tempatnya mencari uang. Dia membuka usaha sendiri dari tabungan yang
dia punya. Kini hidupnya lebih tenang, penghasilannya pun tidak jauh berbeda
dengan gaji yang dia dapat di kantornya dulu, tapi masih ada satu hal yang
mengganggu pikirannya. Rio.
Jam
sudah menunjukkan pukul 4. Bagi siapa pun yang mengadu nasib dengan kerja
kantoran, jam ini seperti oase di gurun pasir. Semua segera menyiapkan diri
untuk pulang, sekalipun tetap tidak akan mudah untuk sampai ke rumah karena
harus bergelut dengan kemacetan Jakarta. Termasuk Rio. Lelaki itu sudah bersiap
untuk pulang ke rumah. Saat menuju lobi, dia berpapasan dengan Siti, office girl kantor.
“Eh,
Mas Korea ! Cieee, udah punya pacar enggak bilang-bilang.. ihiy~” goda Siti.
“Pacar
? Kan pacar aku kamu~” Rio balik menggoda Siti. Dia tidak pernah keberatan
dipanggil Mas Korea oleh Siti, karena perawakannya yang mirip aktor-aktor Korea
kegemaran Siti, tapi hanya Siti yang boleh memanggilnya seperti itu.
“Ih
Mas Korea, Siti serius ! Buktinya di lobi ada cewe yang lagi nungguin Mas
Korea. Katanya pacarnya, cantik lagi.. Siti jealous
deh.”
Rio
mengernyitkan dahinya. “Cewe ?” Siti mengangguk menjawab pertanyaan Rio. Lelaki
itu langsung meninggalkan tempat itu menuju lobi yang tadi dibilang oelh Siti
dan benar saja dia melihat seorang wanita yang sangat dia kenal duduk menunggu
sambil membaca majalah. Seperti merasakan kehadirannya, dia menoleh ke arah Rio
sambil tersenyum.
“Kok
tumben kesini ?” tanya Rio setelah mereka saling berhadapan.
“Ngajak
pulang bareng.”
“Pulang
sendiri emang enggak bisa ?.. Manja. Gue naik bis, enggak bawa mobil.”
Naira
menunjukkan kunci mobilnya ke hadapan Rio.
“Harus
gue juga yang bawa ?”
“Gue
lagi capek.” Ujar Naira manja.
Rio
mengambil kunci mobil dari tangan Naira. “Sogokannya apa nih ?”
“Hmm..
jadi pacar ?”
“Gue
enggak nyari pacar, nyari istri.”
“Itu
juga boleh.” Sahut Naira tersenyum sumringah. Kemudian mereka berjalan keluar
kantor bersama.
“Tadi
siapa sih ? Office girl ya ? Jutek
banget nanyanya.” Tanya Naira yang dibalas senyuman oleh Rio.
Rio
tidak pernah berpikir bahwa dia akan menemui hari ini. Hari dimana dia bisa selalu
disisi Naira, hari dimana dia bisa bermimpi di masa depan dengan wanita yang
dia cintai. Dia sendiri tidak pernah terobsesi dengan uang seumur hidupnya.
Mungkin mulai hari ini, dia akan bergelut mencari uang, itupun untuk Naira dan
mereka.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi
Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang
diselenggarakan oleh CekAja.com dan Nulisbuku.com
No comments:
Post a Comment